Yogyakarta Tempo Doeloe dan Perkembangan sekarang ini

Yogyakarta dari dulu dikenal sebagai kota sejarah. Tak heran jika banyak peninggalan bersejarah baik peninggalan budaya maupun peninggalan tempo dulu seperti masa penjajahan. Hingga sekarang peninggalan itu masih terjaga kelestariannya. Ini tidak lepas dari kepedulian semua lapisan masyarakat Yogyakarta. Selengkapnya »

Ketika Hujan Abu Gunung Kelud Menyelimuti Yogyakarta

Peristiwa Yang terjadi pada tanggal 14 Febuari 2014 sungguh tidak diduga warga Yogyakarta ketika terjadi Hujan abu letusan Gunung Kelud menyelimuti kota Yogyakarta. Selengkapnya »

Info kuliner di Kota Yogyakarta

Berada di Yogyakarta, tak ada salahnya sekalian wisata kuliner khas kota ini. Aneka cita rasa akan ditawarkan dan yang pasti membuat siapapun akan ketagihan mencicipi lagi. Soal makan dan oleh saat berwisata ke Yogya, tidak usah bingung. Selengkapnya »

 

Tag Archives: Sejarah Malioboro

Sepanjang Jalan Kenangan di Malioboro

Malioboro identik dengan Jogja dan begitu sebaliknya. Keduanya bagian yang tidak terpisahkan. Bahkan ada angggapan belum lengkap rasanya datang ke Jogja tapi belum mampir ke Malioboro. Di Malioboro anda bisa menemukan sesuatu yang unik dan khas dari Yogyakarta. Souvenir, kerajinan, kuliner, batik atau busana bahkan kesenian serta saksi sejarah bisa anda temukan di kawasan ini. Tak heran memang jika Malioboro menjadi kawasan yang menyimpan sejuta kenangan dan keunikan.

Malioboro juga sangat strategis karena dengan Stasiun Tugu yang merupakan akses datangnya wisatawan dari berbagai penjuru  kota pulau Jawa.

Jalan Malioboro juga telah membentuk sebuah kawasan tempat berkumpulnya berbagai komunitas. Dari sekian banyak komunitas yang ada, hanya komunitas pedagang yang terus eksis hingga kini. Komunitas-komunitas yang lain, yang dulu memanfaatkan kawasan ini, seperti komunitas budayawan dan seniman akhirnya hanya kebagian ruang sempit, tergusur aktivitas perdagangan yang semakin lama semakin menguasai ruang di Malioboro.

Sejarah Malioboro

Jalan Malioboro merupkan garis imajiner yang menghubungkan antara Kraton Yogyakarta yang berada sisi di selatan, kemudian Tugu, Monumen Jogja Kembali dan mengarah ke Utara sampai puncak Gunung Merapi.

Jalan tersebut dibangun sejak Raja Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono I, dilengkapi sarana perdagangan berupa pasar tradisional semenjak tahun 1758. Pasar yang dulunya berupa kawasan yang banyak tumbuh pohon beringin akhirnya diberi nama Pasar Beringharjo. Kawasan perdagangan tersebut terus berkembang dan setelah berlalu 248 tahun, akitvitas perdagangan meluas hingga menguasai seluruh kawasan Malioboro.

Malioboro diambil dari bahasa sansekerta yang berarti karangan bunga. Dulu, jalan yang perisis membujur ke arah pintu gerbang Keraton Ngayogyakarta selalu dipenuhi karangan bunga jika Keraton menggelar perhelatan. Karena itu jalan tersebut diberi nama Malioboro.

Malioboro menjadi saksi bisu beragam peristiwa penting yang akhirnya banyak mewarnai perjalanan panjang bangsa Indonesia. Hengkangnya tentara kerjaan Belanda dari Bumi Pertiwi secara simbolik dilakukan di Jalan Malioboro dan ada prasastinya yang dapat dilihat sampai sekarang. Di kanan kiri Jalan Malioboro terdapat banyak bangunan bersejarah, diantaranya Benteng Vredeburg dan Gedung Agung. Pernah menjadi tempat bersarang komunitas seniman dan budayawan besar.

Malioboro memang eksotik. Keeksotikan tersebut tetap berpendar hingga saat ini. Ikon Kota Yogyakarta menyediakan aneka macam cinderamata khas Jogja. Perburuan cinderamata sambil berjalan kaki di bahu jalan tempat mangkalnya ratusan pedagang kaki lima menghadirkan suasana nan romantis. Semua ada disini, mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain.

Bila sudah cukup puas menyusuri Malioboro, lesehan Malioboro yang mulai buka menjelang petang dapat dimanfaatkan melepas lelah sambil menikmati makanan khas Jogja Gudeg. Bagi yang ingin memanjakan mulut dengan menu lain, juga ada burung dara goreng atau bakar, pecel lele, sea food, masakan Padang dan aneka makan khas lainnya. Sambil menikmati makanan, pengamen jalanan akan menghibur dengan lagu-lagu hits atau tembang kenangan.

di edit oleh pojokejogja sumber : kedaultan rakyat