Yogyakarta Tempo Doeloe dan Perkembangan sekarang ini

Yogyakarta dari dulu dikenal sebagai kota sejarah. Tak heran jika banyak peninggalan bersejarah baik peninggalan budaya maupun peninggalan tempo dulu seperti masa penjajahan. Hingga sekarang peninggalan itu masih terjaga kelestariannya. Ini tidak lepas dari kepedulian semua lapisan masyarakat Yogyakarta. Selengkapnya »

Ketika Hujan Abu Gunung Kelud Menyelimuti Yogyakarta

Peristiwa Yang terjadi pada tanggal 14 Febuari 2014 sungguh tidak diduga warga Yogyakarta ketika terjadi Hujan abu letusan Gunung Kelud menyelimuti kota Yogyakarta. Selengkapnya »

Info kuliner di Kota Yogyakarta

Berada di Yogyakarta, tak ada salahnya sekalian wisata kuliner khas kota ini. Aneka cita rasa akan ditawarkan dan yang pasti membuat siapapun akan ketagihan mencicipi lagi. Soal makan dan oleh saat berwisata ke Yogya, tidak usah bingung. Selengkapnya »

 

Wisata Kuliner

 
Sugeng Rawuh …. Selamat datang di Jogja, kota pelajar, budaya, wisata, perjuangan, kota kuliner dan segudang julukan lain. Kota kecil nan unik ini banyak menyediakan tempat yang bisa anda kunjungi selama liburan atau saat ‘mampir sesaat, jangan lewatkan menikmati masakan khas yang sudah tekenal seperti gudeg atau masakan lain yang menjadi ‘klangenane’ wong jogja.
 
Kunjungan anda terasa hambar jika belum mencicipi aneka kuliner di kota Jogjakarta dan sekitarnya.

 SATE KARANG

Kenapa dinamai Sate Karang? Itu karena sate spesial ini dijajakan di Lapangan Karang, Kotagede. Bila anda awam dengan Kotagede dan ingin mencoba  kenik-matannya, Sate daging sapi ini sudah dijual di Kotagede katanya sih, sejak Indonesia belum merdeka. Waktu itu namanya bukan Sate Karang dan masih dijajakan keliling Kotagede dengan pikulan oleh Mbah Karyo, generasi pertama yang berdagang sate sapi ini.

Pada tahun 1984, sate keliling ini mulai parkir di pinggir Lapangan Karang sehingga mendapatkan labelnya sampa sekarang ini.

Hebatnya, hingga generasi ketiganya saat ini, cita rasa sate sapi ini tetap terjaga sesuai dengan resep paten Mbah Karyo berpuluh tahun yang lalu. Rasa asli sate yang empuk dan gurih ini dijamin akan menorehkan kenangan kelezatan yang mendalam di dalam hati & lidah anda.

Tidak cukup sampai di situ, untuk melengkapi gempuran kenikmatannya, lontong berkuah opor tempe (yang lagi-lagi kreasi Mbah Karyo) akan menjadi teman makan yang tiada duanya.

Bumbu kacang sate yang kuenthel bereaksi dengan kuah opor yang encer yang menghasilkan perpaduan nuansa rasa manis-gurih dengan keharuman rempah yang khas.Pingin mencoba datanglah ke Lapangan Karang pada petang hingga malam hari. Sebaiknya jangan datang dan makan sendiri, sebab tdk ada nikmatnya, anda dikira orang hilang karena kebanyakan pembelinya adalah sepasang remaja, rombongan atau sekeluarga. Sambil duduk lesehan di tempat terbuka, kita bisa menikmati suasana malam yg indah dan menikmati indahnya bulan dan bintang di langit (kalau tidak mendung). Anda tergoda atau tidak silahkan ajak teman,sodara,pacar, ato keluarga anda untuk mencoba rasa dan suanananya …

 

SATE KLATAK

Bagi orang luar Jogja, sate ini terasa asing di telinga. Sate Klatak yg khas itu terletak di pasar Pleret, suatu tempat ke arah selatan kota Jogja searah dengan makam raja-raja Imogiri kurang lebih 7 km dari pusat kota Jogja.

Sate Klatak sebenarnya adalah sate kambing seperti sate kambing pada umumnya. yang membedakan hanya cara memasak dan penyajiannya saja. Konon Klatak adalah nama daerah, asal sate itu dikenal. Yang membedakan dengan sate kambing pada sate umumnya adalah pada bumbunya. Daging kambing pada sate klatak dipotong tebal-tebal, kira-kira 2 kali ukuran potongan sate kambing umumnya. Lalu bumbunya hanya garam saja, dicelupkan kemudian langsung dibakar.

Keunikan lain adalah dalam hal penyajian. Sate Klatak tidak ditusuk dengan lidi atau bilah bambu, tapi dengan besi. Besinya cukup panjang, kalau tidak salah itu besi jeruji sepeda, yang sedikit dibengkokkan ujungnya untuk pegangan. Dan tusuk besi ini tidak dibuang, dagingnya sudah diambil, maka dipakai kembali untuk tusukan berikutnya.

Bagaimana rasanya sate kambing hanya dengan garam? Bagi orang awan rasanya mungkin terasa aneh dan asin, namun empuknya daging menjadi keunikan tersendiri. Tidak masalah bagi yang lagi sakit gigi, tapi tetep bisa menikmati sate karena tidak alot dagingya.Bagi yg sudah terbiasa dengan sate klatak, menikmati rasanya seperti di awang-awang. Sekali waktu mencoba sebagai variasi dari sate kambing umumnya dan merasakan sensasionalnya perjalanan ke pasar Pleret (dari Jogja) sepanjang kanan kiri jalan ada sekitar 40-an penjual sate, dan juga uniknya cara penyajiannya dengan yaitu tusuk besi tadi. Satu porsi hanya berisi 2 tusuk (tergantung pesanan), tapi karena dagingnya tebal dan tusuknya panjang, cukup untuk mengenyangkan perut yang normal dengan nasi putih sepiring. Harga satu porsi sate klatak juga terjangkau.

Masih ada sensasi yang lain. Kalau malam minggu pembeli sate klatak cukup banyak. Sementara jeruji tusuk sate ini terbatas. Kalau semua tusuk sate terpakai, maka kita mesti nunggu sampai pembeli lain selesai makan, giliran memakai tusuk besinya. capeek dech …

 

GUDEG

Semua makhluk di planet manapun juga tahu makanan ini. Jadi kalau anda tidak tahu ya keterlaluan. Makanan ini memang sudah identik dengan kota Jogja. Namanya juga kota gudeg Jogja.

Gudeg berbahan dasar nangka muda yang direbus bersamaan dengan bumbu-bumbu khusus, santen, di dasar dan di atas panci bahan-bahan yang direbus yang untuk merebus diberi alas daun jati yang masih muda. Untuk mendapatkan rasa dan warna Gudeg yang sempurna dan enak, bahan-bahan tersebut direbus selama sekitar semalam. Daun jati dipergunakan untuk mendapatkan warna Gudeg yang menarik. Untuk areh-nya atau kuahnya terbuat dari santan, bumbu-bumbu, dan kunyit untuk pewarna. Kuah tersebut dituangkan di atas Gudeg yang sudah siap disajikan, hanya sedikit saja, selain kuah juga ditaburi bawang goreng.

Gudeg mempunyai rasa yang manis, biasanya disajikan dengan nasi hangat, telur rebus, ayam, ceker ayam, tahu, tempe, krupuk, dll. Untuk minuman pendampingnya, dapat minuman apa saja; misalnya teh hangat, jeruk hangat, es teh, es jeruk, air putih,tergantung selera.

Biasanya untuk menarik perhatian para calon pembeli, penjual Gudeg mengemas Gudeg dagangannya dengan kemasan yang menarik, yaitu disajikan dengan kendhil, yaitu wadah yang terbuat dari tanah liat. Selain lebih menarik para calon pembeli, kendhil ternyata juga membuat rasa Gudeg lebih khas dan lebih enak. Gudeg kendhil ini dapat kita jumpai di hampir semua tempat yang menjual Gudeg

Salah satu tempat gudeg yang cukup dikenal adalah kampung Wijilan yang terletak hanya 200 meter dari Keraton Jogja untuk menikmati sarapan khas Jogja, yakni Gudeg. Wijilan memang dikenal sebagai salah satu sentra makanan asli Jogja. Mau makan di tempat atau dibawa pulang tidak masalah. Asal jangan makan sambil jalan. Tarifnya bervariasi dari Rp. 20.000 – Rp. 100.000 per paket. Tetapi ada juga yang paket murah Rp. 5.000
 
Usai sarapan anda bisa langsung ke Keraton Jogja. Bisa berjalan kali atawa naik andong kebetulan lewat. Naik becak juga ndak dilarang. Bangunan berusia sekitar 200 tahun ini menyimpan banyak hal yang bisa di nikmati pengunjung. Pukul 07.00 WIB Keraton sudah di buka untuk umum hingga pukul 13.00 WIB. Ditempat ini anda bisa menyaksikan secara langsung bangunan megah yang menjadi sumber budaya Jogja dan Jawa.

Usai dari tempat ini, pergilah ke Jl. Rotowijayan yang hanya sekitar 500 meter dari museum kereta. Di tempat ini bisa mendapatkan berbagai souvenir dengan harga miring. Puluhan toko berjajar dikiri kanan jalan yang menyediakan berbagai barang khas Jogja seperti batik dan kaos, dll.

Sampai sekitar tengah hari, bagi anda yang Muslim bisa menuju ke Masjid Gede Kauman yang berada di Barat Alun-alun Utara Jogja yg hanya berjarak beberapa meter dari kraton.  Malam hari jangan melewatkan kesempatan menikmati gudeg lesehan di sepanjang jl Malioboro atau sepanjang jalan lain di kota Jogja. Untuk yg ini sebaiknya hati-hati masuk warung lesehan yg tidak ada tarifnya.  Soal rasa sama, soal harga lesehan di Jalan Malioboro lebih mahal, jadi tergantung anda.

  
Lesehan
 
Menyusuri jalanan Malioboro belum lengkap rasanya jika tidak mampir warung lesehan sepanjang Jalan Malioboro akan dijumpai mulai dari utara (Teteg Spur sampai ke selatan depan pasar Beringharjo). Setelah capai menyusuri sepanjang jalan, saat makan adalah saat yang tidak bisa di lewatkan. Untuk mememenuhi hasrat perut,  tinggal pilih warung mana yang mau disinggahi.  Menu dan rasa yang di tawarkan setiap warung hampir sama, yaitu gudeg dengan lauk burung dara, puyuh ,lele, ayam dan semacamnya. 
Anda harus hati-hati karena warung lesehan di Maloboro bikin kaget soal harganya.  Banyak alasan yang membuat harga jadi tidak  wajar.  Jika ingin merasakan suasana malam hari di Malioboro kesampingkan soal harga. Warung-warung lesehan biasanya buka sehabis toko-toko di sepanjang jalan ini tutup.  Sehingga untuk menikmatinya harus malam hari. Suasana malam hari inilah yang membuat daya tarik wisatawan  yang berkunjung ke Malioboro.
Jika datang tengah malam, tak usah khawatir tidak menjumpai lesehan ini, karena warung tenda ini buka  sampai pagi.
 
Sebetulnya lesehan tidak hanya di Malioboro saja, hampir di sepanjang jalan protokol di Yogyakarta terdapat warung lesehan, seperti di Jl Urip Sumoharjo (Jl Solo), Jl Mangkubumi, Jl KHA Dahlan, Jl Mayjen Sutoyo. Hanya saja suasananya memang beda walapun menu dan rasanya hampir sama. Hanya harga yang membedakan. Suasana di luar Malioboro terasa lebih mempunyai daya tarik.
 
PECEL BAYWATCH Mbah Warno
 
Menyantap Pecel Kembang Turi Racikan Mbah Warno “Anderson” Jangan bingung dengan julukan Pecel Baywatch yang disandang oleh pecel Mbah Warno.

Warung Mbah Warno terletak di daerah Kasongan, tepatnya berada di jalan menuju Gunung Sempu. Warung yang sudah berdiri sejak 35 tahun lalu ini sangat sederhana. Papan nama warung pecel Mbah Warno ini hanya berukuran 30 x 20 cm2 yang pasti terlewat jika tak benar-benar memerhatikannya. Interior warung diisi oleh perabot yang fungsional dan apa adanya. Hanya terdapat beberapa meja dan kursi kayu serta satu dipan bambu. Di belakang meja tempat meletakkan dagangannya, terdapat dapur berisikan beberapa anglo (alat untuk memasak=kompor) yang selalu mengepulkan asap. Sebuah posisi yang tak disengaja sebenarnya, sebab dapur dalam konsep Jawa biasanya terletak di bagian belakang.

Mbah Warno meletakkan dapur di bagian depan warung pasca gempa Mei 2006 yang meruntuhkan bangunan rumahnya. “Belum punya uang untuk membangun dapur baru”, ujarnya. Mbah Warno menjajakan menu utama pecel dengan beragam lauk sebagai pengiringnya. Mulai dari lele dan belut goreng kering, tahu bacem, mangut belut (belut bersantan yang dibumbui cabai), hingga bakmi goreng. Seporsi pecel, lele goreng, dan tahu bacem seolah menantang untuk secepatnya dinikmati. Terdapat empat jenis sayuran dalam hidangan berlumur bumbu kacang ini yakni daun bayam, daun pepaya, kembang turi (Sesbania grandiflora), dan kecambah / taoge. Disergap rasa manis dari bumbu kacang yang menggelitik lidah.  Saat menguyah kembang turi yang agak getir, rasa manis tadi berpadu sehingga menghasilkan kelezatan yang sulit diungkapkan.
Pecel dengan kembang turi merupakan ciri khas pecel “ndeso”. Jaman sekarang sudah sulit untuk menemukan penjual pecel seperti ini. Konon kembang turi memiliki khasiat meringankan panas dalam dan sakit kepala ringan. Jadi tidak heran bila orang Jawa, India, dan Suriname (masih keturunan Jawa juga sih, hehehe) sering menyantap kembang turi muda sebagai sayuran.Pecel akan bertambah nikmat jika ditambah dengan lele goreng atau tahu bacem. Lele goreng di tempat ini dimasak hingga kering sehingga crispy ketika digigit. Sedangkan tahu bacem yang berukuran cukup besar dapat dinikmati sebagai cemilan bersama cabai rawit. Selain itu juga terdapat hidangan lain seperti belut goreng dengan dua variasinya. Pertama, belut goreng kering yang berukuran kecil dan belut goreng basah yang lebih besar. Ada juga bakmi goreng dan mangut belut bagi anda yang menggemari makanan pedas. Asap dari anglo menambah sensasi rasa dari hidangan di warung ini.Entah karena kenyang atau efek kembang turi, selesai makan kepala terasa lebih cerdas dari biasanya.
Kenapa pecel di tempat ini dijuluki Pecel Baywatch. Terlintaslah imajinasi nakal tentang sosok penjual pecel yang mengenakan bikini seperti Mbak Pamela Anderson atau setidaknya warung ini berada di pinggir pantai. Ternyata salah semua. Hal itu karena Mbah Warno dan asistennya selalu mengenakan sejenis baju yang disebut kaus kutang. Pakaian yang sangat nyaman untuk dikenakan di tengah udara pedesaan Kasongan Bantul yang kering dan panas. Walau penjual pecel ada dimana-mana, Pecel Baywatch tetap menawarkan sesuatu yang lain bagi anda. Sebuah kombinasi kelezatan makanan, suasana pedesaan yang kental, dan keramahan Mbah Warno “Anderson”.
 
 

Leave a Reply